Selasa, 22 Oktober 2013

HIKMAH PANJANG UMUR DAN KETUAAN Atho B. Smith. Apabila kita amati perubahan tampilan (profil) seseorang melalui foto atau ingatan sejak ia muda hingga tua, bahkan sangat tua, maka akan kelihatan performance (penampilan) yang semakin 'jelek', sehingga hal ini seolah memberi kesan bahwa alam adalah 'kejam'. Akan tetapi, jika hal ini dipikir lebih mendalam, maka akan terlihat suatu gambaran yang menunjukkan bahwa kesimpulan tadi adalah sangat keliru. Mengapa demikian? Mari kita buktikan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa hidup ini merupakan suatu 'perjalanan'. Nah, yang namanya perjalanan, itu pasti ada tujuannya (sebagai akhir perjalanan). Tidak dapat disangkal bahwa perjalanan hidup seseorang di dunia ini akan berujung pada kematian. Dengan kata lain, kematian merupakan tujuan daripada kehidupan dunia, karena di situ kehidupan harus berhenti. Akan tetapi, pergeseran dari 'kehidupan' ke 'kematian', oleh makhluk hidup (termasuk manusia) dipandang sebagai sesuatu yang 'menakutkan' karena antara keduanya seolah terdapat ‘jurang’ yang sangat dalam. Nah, guna ‘mempersempit’ jurang tersebut, maka sebelum tiba di akhir perjalanannya, alam telah mempersiapkan kepada semua makhluk hidup suatu kondisi di mana kondisi ini dapat dirasakan sebagai sesuatu yang sifatnya 'familiar' atau 'bersahabat' dengan kematian. Nah, itulah tua renta, uzur, dan sakit-sakitan. Kondisi ini dimaksudkan supaya 'jurang' tersebut menjadi sempit, sehingga dengan demikian kematian menjadi sesuatu yang dipandang sebagai hal yang 'pas' atau 'cocok' untuk kondisi seperti itu (karena untuk kembali manjadi muda adalah hal yang mustahil). Ringkasnya, semakin panjang umur seseorang, semakin ‘bersahabat’ ia dengan kematian, karena ‘jurang pemisah’-nya menjadi lebih rapat. Di sisi yang lain, kondisi ini secara berangsur-angsur dapat pula ‘merenggangkan’ hubungan manusia dengan segala kenikmatan, nafsu, dan selera duniawi yang bakal ditinggalkannya itu, sehingga hal demikian akan mendorong manusia untuk lebih ‘merindukan’ kematian. Mungkin anda akan bertanya, bagaimana dengan orang yang mati muda? Hal ini bagi kami dapat dipandang sebagai pengecualian daripada kondisi tersebut di atas, karena jelas mereka tidak sempat memasuki masa tua. Namun begitu, jangan lupa bahwa dalam kondisi bagaimanapun alam selalu berusaha 'mendekatkan' jurang antara kehidupan dan kematian. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya fenomena abadi, yaitu bahwa setiap kematian selalu didahului dengan sebab musababnya. Demikianlah, wallahu a'lam bissawab. Manado, ultimo Oct.2013