MUTIARA DALAM TIRAM (II)
KARYA SYAIR OLEH :
HABIB ALWI BIN ABDURRAHMAN BIN SMITH, MANADO
101. Orang yang suka tidur nyenyak, diserang musuh tengah malam.
102. Orang yang suka berharapkan kawannya, tiada tahu mempergunakan tenaganya.
103. Seorang anak yang malas, suka tidur kesiangan.
104. Seorang anak yang malas, merasa dingin tengah hari.
105. Seorang anak yang malas, suka malam daripada siang hari.
106. Orang yang tinggalkan ladangnya, menyesal dalam musim pungut padi.
107. Madu yang sangat manisnya, hasil sejenis lalat. Mawar yang sangat harumnya, hasil pohon yang berduri.
108. Sutera yang sangat halusnya, hasil sejenis ulat. Mutira yang mahal harganya hasil sejenis tiram.
109. Pokok langsat yang pahit kulitnya menghasil buah yag manis rasanya.
110. Dalam buah durian yang berduri, terdapat isinya yang lezat cita.
111. Dalam buah manggis yang pahit kulitnya, terdapat isinya yang manis sangat.
112. Harimau yang tiada meninggalkan liangnya, tiada akan mendapat mangsanya. Anak panah yang tiada meninggalkan busurnya tiada akan dapat perburuannya.
113. Emas selagi dalam tambangnya, sejenis batu. Cendana selagi dalam rimba, sejenis kayu.
114. Emas yang dapat meninggalkan tambangnya, menjadi kalung nona-nona. Kemuning yang dapat meninggalkan rimba, menjadi tongkat raja-raja.
115. Kalau bulan tiada beredar, bulan tiada akan purnama.
116. Madu tiada dapat disebut madu selagi dalam perut lebah. Gula tak dapat disebut gula selagi dalam batang tebu.
117. Air selagi dikandung awan, belum dapat disebut hujan.
118. Bunga mawar yang belum meninggalkan taman, belum dapat dipersuntingkan.
119. Nelayan tiada akan mendapat ikan, jikalau tiada meninggalkan daratan.
120. Hujan yang belum dapat meninggalkan awan, tiada dapat membasahi taman.
121. Air diam bertambah keruh, air mengalir bertambah jernih.
122. Karena terbenamnya matahari tiap-tiap petang, bergirang segala makhluk menantikan terbitnya tiap-tiap pagi.
123. Sebab bapak bepergian, anak-anak sibuk dalam rumah bernantikan hadiah.
124. Bunga selagi dalam taman, tak dapat diperhiaskan diatas meja perjamuan.
125. Sepasang lembu yang sama kuatnya, dapat menarik pedati dengan mudahnya.
126. Sepasang lembu yang bertentangan, lambat dalam perjalanannya.
127. Sepasang lembu yang bertentangan, kerap kali membawa pedati kedalam jurang.
128. Kalau melihat kera berjuang, pisang di ladang baik ditebang, kalau mendengar kucing mengeong, ikan di dapur baik disimpan.
129. Kita makan untuk hidup, bukannya kita hidup untuk makan.
130. Jika tidak menyeberang kali, hajat apa sama titian, kalau tidak tidur sekali, dari mana dapat impian.
131. Jikalau hendak mendaki bukit, jangan menoleh ketepi jurang, kalau harta tinggal sedikit masanya akan diumpat orang.
132. Hendak tahu harga makanan, masuk pasaran orang lapar.
133. Hendak tahu harganya sehat, masuk pasaran orang sakit.
134. Mata mendapat tawaran dalam pasar orang buta, kaki mendapat tawaran dalam pasar orang lumpuh.
135. Tabiatnya manusia suka mencela barang yang tidak diketahuinya, atau mengumpat sifat yang tiada padanya.
136. Kerbau mencela kuda karena laju berlari, kuda mencela kerbau karena lambat berjalan.
137. Karena panjangnya kaki bangau dicela itik, karena pendeknya kaki itik dicela bangau
138. Bangau berbangga-banggakan kakinya karena panjangnya, itik bermegah-megahkan kakinya karena pendeknya.
139. Emas atau perak sejenis batu, tetapi batu yang dapat menghancurkan batu.
140. Semenjak bulan menengahi langit, bintang tiada dapat memperlihatkan cahayanya.
141. Pada waktu siang hari, obor tiada dapat dipergunakan.
142. Dibawah naungannya pohon rindang, tiada perlu kita berpayung.
143. Matahari melepaskan sinarnya, bulan suram cahayanya.
144. Mawar menebarkan baunya, melati tidak keciuman.
145. Harimau memperdengarkan suaranya, kerbau menguak tidak kedengaran.
146. Ilmu tidak disertai amal, sebagai obor tengah hari, amal tidak disertai ilmu, sebagai berjalan diatas duri.
147. Adapun orang yang tak mengenal baik dan jahat, tuliskan namanya dalam daftar binatang.
148. Oleh kebebalan, manusia masuk dalam jurang kesesatan, oleh kecerdikan manusia terlepas dari serangan malapetaka.
149. Kalau pemandangan orang yang bijiksana, lebih berharga dari emas intannya orang, papah lagi dungu.
150. Anggapan seorang dewasa, lebih baik dari pemandangan seorang yang masih belia.
151. Dengan insaf dan budi bahasa, dapat memikat hati kawan lawan.
152. Modal manusia hidup ilmunya, amal dan perusahaannya labanya.
153. Ilmu yang tidak diperamalkan, sebagai modal yang tiada diperlabakan.
154. Beramal tidak dengan ilmu, seperti berniaga tiada dengan modal.
155. Harga tiap-tiap seorang, ilmunya, makin banyak ilmu seorang makin mahal harganya.
156. Ilmu dan kecerdikan, kawan sebaik-sebaik kawan, dungu dan kebebalan lawan sejahat-jahat lawan.
157. Ilmu bagi manusia, sebagai sinar bagi matahari. Mulia matahari dengan sinarya, mulia manusia dengan ilumnya.
158. Ilmu pada manusia, sebagai permata pada kalung emas, mahal manusia karena ilmunya, mahal kalung karena permatanya.
159. Ilmu tiada dengan pengaruh, seperti dongeng dalam impian; hidup tiada dengan harta, senantiasa dalam cacian.
160. Ilmu dalam hati seorang, sebagai air dalam sumur, makin banyak disibur orang, makin bertambah jernihnya.
161. Manusia dengan ilmunya, sebagai matahari dengan cahayanya, dapat diambil orang manfaatnya, tetapi tiada dapat diceraikan dari padanya.
162. Anggota seorang yang tiada berilmu kuburnya sebelum ia mati.
163. Kalau emas dan perak menjadi bahtera kehidupan, ilmu menjadi nakhodanya.
164. Berobor orang yang berilmu pada waktu malam, berobor orang yang dungu pada waktu siang.
165. Akan akal yang waras, sebagai mata pada manusia, sedang ilmunya sebagai obor dalam tangannya.
166. Emas dan perak perlu diamat-amati, ilmu dan pengetahuan mengamat-amati.
167. Mewariskan ilmu pengetahuan pada turunan, lebih baik dari mewariskan emas dan perak.
168. Orang yang tiada berilmu, dianggap mayit sekalipun berpelanjongan pada waktu siang hari.
169. Memperdengarkan nyanyian kepada orang tuli, sama artinya dengan memperlihatkan tarian pada orang buta.
170. Seorang ahli dalam ilmu bumi, tahu ia besarnya benua Cina, tetapi tiada mengenal sutera tiruan kalau belum masuk pasar Shanghai.
171. Cendrawasih ditembak karena cantiknya, nuri dipikat karena cerdiknya.
172. Kijang diburu karena dagingnya, musang ditangkap karena kulitnya.
173. Lebah dibakar karena madunya, mangga dilontar karena buahnya.
174. Pohon getah diiris karena getahnya, pohon pisang ditebang karna buahnya.
175. Pelanduk yang baik nasibnya, dapat memperdayakan harimau, harimau malang mati kelaparan diantara mangsanya.
176. Unggas yang berbahagia, dapat mengeramkan telurnya diatas ranting, harimau kemalangan tiada dapat mengapakan anjing dihadapannya.
177. Buaya yang hilang nasibnya, termenung melihat serigala meronda ditepi kali.
178. Serigala yang putus harapan, tak dapat melihat anak ayam disamping liangnya.
179. Seorang raja yang sial, kecil pada mata rakyatnya.
180. Seorang raja yang sial, dipandang salah dalam segala tindakannya.
181. Bujang yang berbahagia, berkuasa dalam rumah tuannya.
182. Seorang raja yang kurang jasa, dipengaruhi menterinya, seorang suami yang kurang tenaga dipengaruhi istrinya.
183. Orang yang bakal mati dalam peperangan, tak dapat mendengar bunyi bedil, orang yang bakal tertawan, tak dapat melihat musuh dihadapannya.
184. Soal sulit bagi orang yang bukan ahlinya, sebagai kacamata bagi orang buta.
185. Karena becak jadi saingan dalam negeri, kuda dapat melepaskan lelahnya.
186. Karena kuda diperbebankan, keledai enteng dalam pertuanannya.
187. Kalau saudagar bergandengan, orang kampung mati kesukaran. Kalau saudagar bertentangan, orang kampung hidup bergelimpangan.
188. Harimau sama harimau sama berjuang, pelanduk dapat menyanyikan kidung kebangsaannya.
189. Buaya adu tenag, kambing dapat menyeberang kali.
190. Anjing memusuhi musang, ayam dapat berpelancongan.
191. Kucing bimbang diserap anjing, tikus dapat kesempatan.
192. Tikut takut diserang kucing, padi di lumbung tidak terganggu.
193. Babi takutkan pemburu, keladi terpelihara.
194. Takutkan ombak di tepi laut, nelayan tak dapat melepaskan pukatnya.
195. Danau kecil tidak berombak, danau besar acapkali bergelombang.
196. Selagi hajatmu dalam tangan lain orang, anggapkan dirimu sebagai tawanannya.
197. Oleh terdesak hajat, manusia lupa harga dirinya.
198. Oleh sangat kedinginan, terpaksa duduk di samping api.
199. Sebab perut berkeronjongan, lupa racun dalam keladi.
200. Takutkan ampuhan dari laut, mati lemas dalam kolam.
201. Karena takut kehujanan, beli payung lewat harganya.
202. Oleh suara sinag meraung, lembu terpaksa masuk ke jurang.
203. Oleh suara kucing mengeong, tikus terjepit oleh perangkap.
204. Tupai dipagut ular, katak mati ketakutan. Ayam disambar elang, itik bimbang bukan buatan.
205. Seorang pendekar mahir, dapat menantang musuh dengan senjata seterunya.
206. Kemana harimau pergi, disana mendapat mangsanya.
207. Harimau mengelilingi rimba, tiada membawa bekalnya.
208. Kalau tiada tinggalkan Jawa, tiada akan dapat memburu gajah di Sumatera.
209. Kalau tiada berjuang tiada akan terdapat keinsafan.
210. Kalau tiada melambung tinggi, darimana mendapat pengkhabaran langit.
211. Dalam soal tolong menolong, si buta menjadi kaki, si lumpuh menjadi mata.
212. Dalam soal tolong menolong, nakhoda dapat membawa kapal, kapal dapat membawa nakhoda.
213. Seorang kawan yang tidak dapat menolong kawannya dalam masa kemalangan, adalah seperti kacamata pada orang buta.
214. Jika seorang sahabat yang tak dapat menolong sahabatnya dalam masa kesusahan, adalah seperti gigi tiruan pada mulut orang tua, indah dilihat, tetapi tidak dapat dipakai makan.
215. Jika seorang bertangan satu, tentu tak bisa bertepuk tangan. Kalau tak bisa kita bersatu, kenang-kenangan tinggal kenangan.
216. Tolongan yang masih dijanji-janjikan, belum dapat disebut tolongan, bantuan yang masih dinanti-nantikan, belum dapat disebut bantuan.
217. Sedikit yang sudah diberikan, lebih banyak daripada banyak yang masih dijanjikan.
218. Tangan yang mengajurkan pemberian, lebih berharga daripada lidah yang menjanjikan tolongan.
219. Sedikit pada ketika hajat, lebih banyak daripada banyak ketika kelimpahan.
220. Keladi dimakan ketika lapar, lebih lezat daripada roti ketika kenyang.
221. Pada musim kemarau, air keruh dapat menghilangkan dahaga.
222. Seruhan orang yang durhaka, hancur luluh di bawah awan. Tangisan orang yang teraniaya, menggemparkan isi langit.
223. Makhluk dapat melupakan Tuhannya, tetapi Tuhan tiada dapat melupakan MakhlukNya.
224. Sekalipun masuk kerajaan sorga, kematian tetap tiada disukai orang.
225. Jika berlayar menepi pantai, pedoman tiada dapat digunakan.
226. Besi dapat dipotong dengan besi, warna dapat dihapuskan dengan warna.
227. Pohon yang berbuah lezat, seringkali dilontar oleh anak kampung.
228. Pohon yang tiada menghasilkan buahnya, kalau-kalau dapat menghasilkan daunnya.
229. Pohon yang tiada memberikan hasilnya, baik ditebang guna memasak sayur.
230. Hendak terbang tiada bersayap, hendak berjalan tiada berkaki.
231. Dibawah pohon besar lagi rindang, pohon kecil tidak akan subur.
232. Ayam diberi jagung karena telurnya, biri-biri diberi rumpt karena dagingnya.
233. Kalau mualim dapat membawa kapal, kapal pun dapat membawa mualim.
234. Kalau telur daripada ayam diakui, ayam daripada telur tak dapat disangkal.
235. Hati dapat memikirkan tujuan, lidah dapat menyatakan pendapat.
236. Hati dapat memberikan kepastian, lidah menjadi juru bahasanya.
237. Kaki dapat menempuh jalan, mata yang menunjukannya.
238. Saudagar dapat memperlabakan modal, modal dapat melabakan saudagar.
239. Dengan kaki dapat berjejak, dengan tangan dapat berpegang.
240. Dengan kaki dapat mengejar maling, dengan tangan dapat menangkapnya.
241. Sepatu yang tiada sebesar kaki, tiada dapat dipakai berjalan jauh.
242. Bintang kehormatan yang tiada seimbang jasa, tiada dapat dibangga-banggakan.
243. Bukannya kapal membawa nahkoda, tetapi nahkoda membawa kapal.
244. Perahu yang masih didaratan, tidak dapat dilayarkan, rencong masih dalam sarungnya belum dapat digunakan.
245. Dalam sungai kecil acapkali terdapat ikan yang tiada terdapat dalam lautan besar.
246. Bila ajal berpantang mati, tabib mahir tidak berdaya.
247. Peluru dapat tenggelamkan kapal, bukan sebesar kapal, tikus dapat menolong harimau, bukan sebesar harimau.
248. Sauh dapat menahan perahu, bukan sebesar perahu, kayu dapat menjalankan sampan bukan sebesar sampan
249. Pahala lembu pedati yang kehabisan tenaganya, dituntun kerumah bantaian.
250. Kerbau mati disawah tidak tahu rasanya padi.
251. Jarum dapat menjahitkan pakaian, jarum senantiasa tidak berbaju.
252. Sumbu pelita musnah dimakan api, terangnya guna orang.
253. Yang cari bukannya yang makan, yang makan bukannya yang cari.
254. Peluru yang merebahkan kijang, pemburu yang memakan dagingnya.
255. Anjing mati dalam perburuan, daging gemuk untuk pemburu.
256. Sungai mengalir kelaut, tiada akan berbalik kehulu, laut pasang kesungai, sekali kelaut pula.
257. Sungai mengalir kelaut kewajiban, laut pasang kesungai pengasihan.
258. Batu gunung turun kelembah sendirinya, batu lembah naik kegunung perlu tenaga.
259. Batu gunung turun kelembah, mendapat kedudukan, batu lembah naik kegunung takut tergiling turun.
260. Buaya kedaratan mendapat mangsa, serigala kelautan mati lemas.
261. Obor dalam tangannya orang buta, terangnya guna lain orang.
262. Kalau tidak mempunyai uang, perlu apa masuk pasar, kalau tidak mempunyai kawan, ingatkan diri akan kesasar.
263. Air laut pasang kekali sekali-kali, air turun kelaut senantiasa.
264. Betapapun sungai-sungai mengalirkan airnya kelaut, laut tiada tawar dan tiada bertambah dalamnya.
265. Kalau musuh dari udara, baik berlindung dibawah tanah, kalau musuh diseberang laut, pasang ranjau dipelabuhan.
266. Kalau jadi milik si gundul, apa gunanya sisir seribu, kepada seorng perempuan mandul siapa kelak berseru ibu.
267. Bukannya sumur mendekati sibur, tetapi sibur mendekati sumur.
268. Kalau hendak anggap saudara, cinta kasih harus buktikan, jangan digenggam seperti bara, rasa hangat dilepaskan.
269. Mawar yang harum bau biarpun layu dicium lagi. Orang yang baik budi, meskipun mati diingat lagi.
270. Pada kelingking pandai emas, tiada terdapat cincin permata.
271. Sakit pada jari telunjuk, segenap tangan tidak berdaya, kalau hendak jadi petunjuk, jangan fikirkan susah dan payah.
272. Orang yang sakit mata benci akan matahari, orang sakit kaki tak suka melihat orang yang berlari.
273. Karena sangat bercinta bulan di langit, mengintip bayangnya dalam kolam.
274. Karena sangat bercintakan bulan, impikan bulan siang hari.
275. Karena sangat bercintakan bulan, agak lupa akan matahari.
276. Jikalau kaki hilang tenaga, segenap tubuh tiada berdaya, kalau suami sering berlaga, istri tak cantik, kalah bergaya.
277. Harta orang yang dermawan adalah sebagai mata air di atas puncak gunung yang tinggi, kemanapun dapat dialirkannya.
278. Harta orang yang kikir, adalah sebagai mata air dalam jurang, tiada mudah diambil manfaatnya.
279. Orang yang kikir menjaga akan hartanya, orang yang dermawan dijaga oleh hartanya.
280. Harta dalam tangan orang kikir, seperti emas dalam gunung batu, dipegang tak boleh dilihat tak bisa.
281. Harta dalam tangan orang kikir, seperti mutiara dalam perut anjing, anjing belum dibantai, mutiara belum dapat dipergunakan.
282. Harta dalam tangan orang kikir, adalah sebagai air susu dalam susunya seorang ibu, mati ia kehausan, tapi ia tak dapat meminum air susunya sendiri.
283. Harta orang yang mulia budi, menambahkan kemuliaannya, harta orang yang hina budi menambahkan kehinaannya.
284. Orang yang dermawan dekat kepada manusia, dekat kepada Tuhannya, orang yang kikir jauh dari pada manusia, jauh pula dari pada Tuhannya.
285. Salah dalam memberi ampun, bukan salah dalam memberi hukuman.
286. Salah memberi bukan salah mengambil, salah melepaskan pukulan bukan salah memberi pukulan.
287. Kalau hendak bercincin, baik dengan cincin seharga jari, mahkota yang bukan pada kepala raja, janggal pada mata oang.
288. Selagi bekerja guna hidup, jangan fikir akan mati, selagi bekerja guna mati, jangan fikir guna hidup.
289. Kalau hendak mati, jangan fikir hidup, kalau hendak hidup jangan fikir mati.
290. Oleh besar kegirangan dalam pertemuan, besar kesedihan dalam perceraian.
291. Besar kegirangan masa kelahiran, besar kedukaan masa kematian.
292. Yang pergi tiada akan balik, yang datang belum pasti.
293. Sekalipun hidup piatu, anak kucing tahu menyerang tikus.
294. Berapa besarnya pemberian seorang hartawan, terasa seakan setitik air diambil dari lautan, berapa kecilnya pemberian seorang dalam kemiskinan, terasa seakan sekeping daging diambil dari suku anggotanya.
295. Mati dahaga seorang ibu, tiada akan meminum air susunya sendiri.
296. Harimau mati kehausan, tiada akan minum air bekas diminum anjing.
297. Kalau hendak berani mati, takut apa akan kolera, kalau tidak kena cemeti, ragam tidak ambil bendera.
298. Kecemasan hati seorang, dapat dilihat dalam peribahasanya, atau tampak pada roman mukanya.
299. Dengan ukiran pada kulit buah manggis, dapat dihitung isinya, dengan air dalam buah nyiur dapat diketahui tua mudanya.
300. Dengan melihat bunga dalam taman, dapat diketahui perubahan di udara.
301. Dengan keruh air di muara, dapat diketahui hujan lebat di hulu.
302. Dengan melihat kedudukan bulan di langit, dapat diketahui pasang surutnya air di lautan.
303. Dengan tampaknya burung beterbangan di laut, nakhoda dapat memberi kepastian jauh dekatnya daratan.
304. Dengan melihat awan di udara, dapat diterka angin apa yang akan berhemb
Jumat, 29 Mei 2009
Rabu, 27 Mei 2009
MUTIARA DALAM TIRAM
MUTIARA DALAM TIRAM (I)
KARYA SYAIR OLEH:
HABIB ALWI BIN ABDURRAHMAN BIN SMITH,
- Angin melewati taman berbau harum, melewati bangkai berbau busuk
- Kemuliaan hati seseorang dapat diukur ketika ia murka, sedang keberaniannya ketika diserang musuh.
- Kalau hendak menguji sahabat, baik dalam masa kemalangan.
- Menyerang kepada orang yang lemah, membuktikan akal kurang waras atau diri kurang harganya.
- Sedikit diperhematkan, lebih banyak daripada banyak diboroskan.
- Seribu bilah jarum, tiada akan menjadi satu kapak.
- Sinar ribuan bintang dilangit, tak akan menyamai sinarnya bulan.
- Bagaimanapun terangnya bulan, tiada akan seterang matahari.
- Betapa juapun kambing membesar-besarkan dirinya, tiada akan sebesar kerbau.
- Betapa lamapun cacing bertapa, tiada akan menjadi ular.
- Nyamuk dan gajah sama berbelalai, tetapi tiada sama dalam tenaganya.
- Kucing dan harimau sama romannya, tetapi bukan sama beraninya.
- Seribu tahun kucing dalam pertapaan, tiada akan merajai rimba.
- Meskipun dicuci dengan mawar, arang batu tiada akan putih.
- Kuningan tinggal kuningan, meskipun disepuh berulang-ulang.
- Sekalipun hidup seumur dunia, kucing tiada akan sebesar harimau.
- Betapa kerasnya keledai berlakri, tiada akan mendahului kuda.
- Oleh kebanyakan ikan di pasar, turun harga kerbau di padang.
- Jikalau langit tiada meratap dengan air hujannya, bumi tiada akan tersenyum dengan tumuh-tumbuhannya.
- Keuntungan pada satu pihak, menjadi kerugian kepada pihak lain.
- Air pasang di barat, surut di timur, air pasang di timur surut di barat.
- Oleh kebanyakan becak dalam kota, kuda ranjak turun harganya.
- Rahasia kepada seorang yang bukan ahlinya, sebagai burung dalam sangkar yang terbuka.
- Makin banyak tempat menyimpan rahasia, makin keciuman sana-sini.
- Salah kaki berjejak rebah tubuh berbangkit pula, salah lidah berkata dipancung leher jatuh kepala.
- Salah titik salah rangkaian, salah koma salah kalimat.
- Salah intip salah haluan, salah pikir salah haluan.
- Salah berhitung kalah uang, salah berpikir kalah berjuang.
- Pengakuan dalam kesalahan, kebenaran. Penyangkalan dalam kesalahan, kesalahan.
- Penyesalan dalam kesalahan, pengakuan. Pengakuan dalam kesalahan, penyesalan.
- Salah memberi bukan salah mengambil, sedang salah mengambil bukan salah memberi.
- Salah menghitung bulan Sya’ban, agak puasa bulan Syawal.
- Salah tebak musim hujan, benih mati kepanasan.
- Oleh hujan subur tanaman, oleh didikan subur pikiran.
- Didikan pada masa kecil, adalah sebagai ukiran pada batu.
- Anak yang tiada dididik baik, bila berdiri di atas batu, batu di atas batu.
- Oleh didikan, anjing dapat diperburukan, harimau dapat diperjinakkan.
- Oleh didikan, kuda dapat diperbebankan, lembu dapat diperlombakan.
- Oleh saringan air keruh akan jernih, oleh asahan sembiluh tumpul akan tajam.
- Kalau tak kuasa menjadi gunung, biar jadi bukit kecil air kotor suka mengalir ke jurusan tanah yang rendah.
- Jikalau takut diumpat orang, jangan berbuat barang yang salah.
- Kalau takut akan basah, jangan berjalan musim hujan.
- Kalau takut dilanggar banjir, jangan berumah di tepi kali.
- Kalau takut kalah berjuang, jangan inginkan kemenangan.
- Kalau takut disengat lebah, jangan inginkan madu yang manis.
- Kalau takut akan impian, jaga diri ketiduran.
- Tikus yang takutkan perangkap, tidak akan keluar dari liangnya.
- Tikus yang takutkan kucing, mati dahaga dalam liangnya.
- Serigala yang takutkan buaya, tiada berani mendekati kali.
- Kijang yang takutkan pemburu, kehausan dalam rimba.
- Anak ayam yang takutkan elang, tiada keluar dari bawah sayap induknya.
- Selagi raja dapat bermodalkan keadilan, rakyat dapat memperlabakan ketaatannya
- Keadilan seorang raja kepada rakyatnya, sebagai air hujan kepada tanaman.
- Subur tanaman oleh hujan, subur kepemerintahan oleh keadilan.
- Oleh ketiadaan hujan, tanaman mati kekeringan, oleh ketiadaan adil, rakyat mati kesukaran.
- Pokok kepemerintahan keadilan, pokok kemajuan keinsafan.
- Adil tidak disertai insaf tidak maju, insaf tidak disertai adil tidak langsung.
- Seorang raja yang adil mewakili Tuhan, seorang raja yang dhalim memusuhi Tuhan.
- Pahala keadilan seorang raja, penurutan rakyatnya, pahala penurutan rakyat, kemakmuran negerinya.
- Hari berganti hari daftar peramalan manusia hidup, alangkah baiknya jikalau manusia dapat mengisi daftar peramalannya dengan sesuatu yang baik.
- Dengan keadilan dapat menguasai rakyat, dengan kesadaran dapat mencapai hajat
- Lembaga orang yang munafik, seteru iblis di muka ramai, sahabatnya disendirian.
- Alamat orang yang munafik, khianat dalam pekerjaannya, dusta dalam peribahasanya.
- Memperdengarkan debatan, lebih baik daripada menyembunyikan pertengkaran.
- Memperlihatkan kegirangan lebih baik daripada berjanjikan pemberian.
- Dalam rumah kesedihan, baik termenung daripada tersenyum.
- Berharap-harapkan hajat dari seorang yang tiada berbudi, sebagai berharap-harapkan telur dari seekor ayam jantan.
- Bernanti-nantikan tolongan dari seorang yang tidak mengenal budi, sebagai bernanti-nantikan embun turun tengah hari.
- Pahala orang yang durjana, umpatan. Pahala orang yang muliawan, pujian.
- Harga sesuatu pemberian, menjadi ukuran tangan yang memberi.
- Tangan yang memberi, mengatasi tangan yang menerima.
- Tangan yang memberi berbangga, tangan yang menerima kemalu-maluan.
- Pemberian kepada yang tidak berhajat, budi. Pemberian kepada yang berhajat, pengasihan.
- Manusia sama memburu, alat pemburuannya berbeda-beda.
- Laba tiada dapat dipikat, jauh dari samping kerugian.
- Jika hendak mengambil madu, jangan takut sengat lebahnya, jika hendak mengambil mawar, jangan takut kena durinya.
- Berharapkan laba dengan tiada menempuh jalannya yang sejati, seakan melepaskan tali kail di daratan.
- Dengan tiada makan, tiada akan kenyang. Dengan tiada mandi, tiada akan basah.
- Dengan tiada berbaring, tiada akan tidur. Dengan tiada tidur tiada akan mimpi.
- Jiklau dapat memegang ular dengan tangan lain orang, jangan dipegang dengan tanganmu sendiri.
- Jikalau hendak memburu kijang, jangan di samping liang harimau.
- Jikalau hendak bermain apai, lebih baik di tepi kali. Supaya hajat akan tercapai, bertindak maju berkali-kali.
- Jikalau hendak berburu lalat, jangan diburu dengan bedil.
- Jikalau hendak memikat ikan, jangan dipikat di daratan.
- Bukannya segala titik digemari orang. Titik putih pada bibir hitam tak disukai, titik hitam pada dagu putih sangat digemari.
- Bukan segala senyuman menyatakan cinta kasih, harimau tersenyum akan menerkam mangsanya.
- Bukan segala tarian membuktikan sukaria, ayam bertari hendak mati disembelih orang.
- Bukan segala tangisan membuktikan kesedihan, langit menangis hendak memberikan penghiburan pada bumi.
- Bukannya segala hadiah berarti pengasihan, banyak hadiah berarti umpan.
- Karena gemarkan hadiah mata kail, ikan dapat dipanggang juru masak.
- Air mata yang gugur dalam pertemuan, bukannya yang gugur dalam perceraian.
- Air mata tumpah ketika pertemuan menyatakan kegirangan, air mata tumpah ketika perceraian, mengabarkan kerinduan.
- Suara harimau sepada ganasnya. Kaki bangau sepanjang lehernya.
- Bukan segala seduhan dapat dikasihi, tikus terseduh-seduh karena tak dapat mencuri ikan.
- Bukan segala tangisan mengartikan kesedihan. Langit menangis hendak membanjiri kota.
- Hasil pendapatan seorang manusia sepadan dengan tenaganya.
- Laba-laba sekedar pikatnya, nyamuk sekedar mangsanya.
- Besar ranting sekedar dahannya, besar dahan sekedar pokoknya.
- Betapa kecil seterumu jangan dipermudahkan, nyamuk dapat menghisap darah kelopak mata harimau.
100. Orang yang mempermudahkan seterunya, lalai dalam pengawasannya.
101. Orang yang suka tidur nyenyak, diserang musuh tengah malam.
Selasa, 12 Mei 2009

HABIB ALWI BIN ABDURRAHMAN BIN SMITH TOKOH DAKWAH DI SULAWESI UTARA
Habib Alwi Bin Abdurrahman Bin Smith merupakan keturunan ke 31 dari Rasulullah SAW. Beliau lahir di pulau Manganitoe, Sangir Talaud pada kira-kira tahun 1880-an dari hasil perkawinan antara Habib Abdurrahman Bin Husen Bin Smith yang datang dari Hadramaut, dengan penduduk setempat, yaitu Aisyah binti Daeng Salasa, seorang bangsawan keturunan raja Bugis. Habib Abdurrahman meninggalkan pulau Sangihe kurang lebih 6 bulan sebelum Habib Alwi lahir. Di masa kecil sepeninggal ayahnya, sebagai anak tunggal beliau diasuh oleh ibunya dengan dibantu oleh saudara-saudara sang ibu. Dalam suasana kehidupan ekonomi yang memprihatinkan di masa itu, beliau sempat disekolahkan di desa Manganitoe hingga tamat Sekolah Dasar. Kepintaran dan kehebatan beliau berpidato di depan kelas dan di tempat-tempat umum telah menarik perhatian pendeta Steller, seorang tokoh gereja di desa Manganitoe ketika itu. Tak heran Sang pendeta lalu berniat akan mengambil, mengasuh serta mengembangkan bakat Habib Alwi itu dengan rencana memasukkannya ke sekolah pendeta. Namun niat sang pendeta tersebut tidak kesampaian karena Habib Alwi keburu diambil oleh seorang saudagar kaya dari Tahuna, Tuan Zen Basalamah dan Tuan Syekh bin Muhammad Bachmid yang kemudian mengirim Habib Alwi ke Jawa untuk dimasukkan ke sekolah agama selama beberapa tahun di sana. Sekembalinya dari Jawa beliau berdagang di kota Manado yang kemudian menyunting salah seorang anak perempuan dari Tuan Awad Basalamah yaitu Fatmah Basalamah (adik ipar Tuan Zen Basalamah). Pasca perkawinannya, pasangan Bin Smith-Basalamah ini menetap dan mengembangkan usahanya di Manado, ibukota propinsi Sulawesi Utara. Hasil-hasil usahanya yang sukses itu telah memungkinkan beliau memiliki sejumlah tanah yang luas dan terletak di lokasi-lokasi strategis di kota Manado seperti di Komo Luar, Wawonasa/Karame, Istiqlal, dan di Tuminting. Sedangkan dari hasil perkawinannya Habib Alwi mendapatkan keturunan 4 anak laki-laki, yakni: Habib Abdurrahman (1915-1963), Habib Syekh (1917-1970), Habib Husen (1919-2001), dan Habib Umar (1939-2002), serta 1 anak perempuan, Syarifah Gamar (1929-1993). Kesemua anak tersebut lahir dan meninggal di Manado, kecuali Habib Abdurrahman kuburannya di Jakarta dan Habib Husen di Bandung.
Pedagang dan Juru Dakwah yang Sukses.
Selain berdagang, Habib Alwi juga punya kegiatan memberikan ceramah2 agama dan pengajian di berbagai mesjid di kota Manado, khususnya di Mesjid yang berada di wilayah kampung Arab (sekarang wilayah Istiqlal). Ketika berada di Manado, Habib Alwi juga sempat berguru kepada salah seorang ulama terkenal asal Banten lulusan Mekkah, yaitu Kiai Haji Muhammad Arsyad Thawil.
Habib Alwi Bin Abdurrahman Bin Smith merupakan keturunan ke 31 dari Rasulullah SAW. Beliau lahir di pulau Manganitoe, Sangir Talaud pada kira-kira tahun 1880-an dari hasil perkawinan antara Habib Abdurrahman Bin Husen Bin Smith yang datang dari Hadramaut, dengan penduduk setempat, yaitu Aisyah binti Daeng Salasa, seorang bangsawan keturunan raja Bugis. Habib Abdurrahman meninggalkan pulau Sangihe kurang lebih 6 bulan sebelum Habib Alwi lahir. Di masa kecil sepeninggal ayahnya, sebagai anak tunggal beliau diasuh oleh ibunya dengan dibantu oleh saudara-saudara sang ibu. Dalam suasana kehidupan ekonomi yang memprihatinkan di masa itu, beliau sempat disekolahkan di desa Manganitoe hingga tamat Sekolah Dasar. Kepintaran dan kehebatan beliau berpidato di depan kelas dan di tempat-tempat umum telah menarik perhatian pendeta Steller, seorang tokoh gereja di desa Manganitoe ketika itu. Tak heran Sang pendeta lalu berniat akan mengambil, mengasuh serta mengembangkan bakat Habib Alwi itu dengan rencana memasukkannya ke sekolah pendeta. Namun niat sang pendeta tersebut tidak kesampaian karena Habib Alwi keburu diambil oleh seorang saudagar kaya dari Tahuna, Tuan Zen Basalamah dan Tuan Syekh bin Muhammad Bachmid yang kemudian mengirim Habib Alwi ke Jawa untuk dimasukkan ke sekolah agama selama beberapa tahun di sana. Sekembalinya dari Jawa beliau berdagang di kota Manado yang kemudian menyunting salah seorang anak perempuan dari Tuan Awad Basalamah yaitu Fatmah Basalamah (adik ipar Tuan Zen Basalamah). Pasca perkawinannya, pasangan Bin Smith-Basalamah ini menetap dan mengembangkan usahanya di Manado, ibukota propinsi Sulawesi Utara. Hasil-hasil usahanya yang sukses itu telah memungkinkan beliau memiliki sejumlah tanah yang luas dan terletak di lokasi-lokasi strategis di kota Manado seperti di Komo Luar, Wawonasa/Karame, Istiqlal, dan di Tuminting. Sedangkan dari hasil perkawinannya Habib Alwi mendapatkan keturunan 4 anak laki-laki, yakni: Habib Abdurrahman (1915-1963), Habib Syekh (1917-1970), Habib Husen (1919-2001), dan Habib Umar (1939-2002), serta 1 anak perempuan, Syarifah Gamar (1929-1993). Kesemua anak tersebut lahir dan meninggal di Manado, kecuali Habib Abdurrahman kuburannya di Jakarta dan Habib Husen di Bandung.
Pedagang dan Juru Dakwah yang Sukses.
Selain berdagang, Habib Alwi juga punya kegiatan memberikan ceramah2 agama dan pengajian di berbagai mesjid di kota Manado, khususnya di Mesjid yang berada di wilayah kampung Arab (sekarang wilayah Istiqlal). Ketika berada di Manado, Habib Alwi juga sempat berguru kepada salah seorang ulama terkenal asal Banten lulusan Mekkah, yaitu Kiai Haji Muhammad Arsyad Thawil.
Senin, 11 Mei 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
