Jumat, 29 Mei 2009

MUTIARA DALAM TIRAM (II)

MUTIARA DALAM TIRAM (II)
KARYA SYAIR OLEH :
HABIB ALWI BIN ABDURRAHMAN BIN SMITH, MANADO


101. Orang yang suka tidur nyenyak, diserang musuh tengah malam.
102. Orang yang suka berharapkan kawannya, tiada tahu mempergunakan tenaganya.
103. Seorang anak yang malas, suka tidur kesiangan.
104. Seorang anak yang malas, merasa dingin tengah hari.
105. Seorang anak yang malas, suka malam daripada siang hari.
106. Orang yang tinggalkan ladangnya, menyesal dalam musim pungut padi.
107. Madu yang sangat manisnya, hasil sejenis lalat. Mawar yang sangat harumnya, hasil pohon yang berduri.
108. Sutera yang sangat halusnya, hasil sejenis ulat. Mutira yang mahal harganya hasil sejenis tiram.
109. Pokok langsat yang pahit kulitnya menghasil buah yag manis rasanya.
110. Dalam buah durian yang berduri, terdapat isinya yang lezat cita.
111. Dalam buah manggis yang pahit kulitnya, terdapat isinya yang manis sangat.
112. Harimau yang tiada meninggalkan liangnya, tiada akan mendapat mangsanya. Anak panah yang tiada meninggalkan busurnya tiada akan dapat perburuannya.
113. Emas selagi dalam tambangnya, sejenis batu. Cendana selagi dalam rimba, sejenis kayu.
114. Emas yang dapat meninggalkan tambangnya, menjadi kalung nona-nona. Kemuning yang dapat meninggalkan rimba, menjadi tongkat raja-raja.
115. Kalau bulan tiada beredar, bulan tiada akan purnama.
116. Madu tiada dapat disebut madu selagi dalam perut lebah. Gula tak dapat disebut gula selagi dalam batang tebu.
117. Air selagi dikandung awan, belum dapat disebut hujan.
118. Bunga mawar yang belum meninggalkan taman, belum dapat dipersuntingkan.
119. Nelayan tiada akan mendapat ikan, jikalau tiada meninggalkan daratan.
120. Hujan yang belum dapat meninggalkan awan, tiada dapat membasahi taman.
121. Air diam bertambah keruh, air mengalir bertambah jernih.
122. Karena terbenamnya matahari tiap-tiap petang, bergirang segala makhluk menantikan terbitnya tiap-tiap pagi.
123. Sebab bapak bepergian, anak-anak sibuk dalam rumah bernantikan hadiah.
124. Bunga selagi dalam taman, tak dapat diperhiaskan diatas meja perjamuan.
125. Sepasang lembu yang sama kuatnya, dapat menarik pedati dengan mudahnya.
126. Sepasang lembu yang bertentangan, lambat dalam perjalanannya.
127. Sepasang lembu yang bertentangan, kerap kali membawa pedati kedalam jurang.
128. Kalau melihat kera berjuang, pisang di ladang baik ditebang, kalau mendengar kucing mengeong, ikan di dapur baik disimpan.
129. Kita makan untuk hidup, bukannya kita hidup untuk makan.
130. Jika tidak menyeberang kali, hajat apa sama titian, kalau tidak tidur sekali, dari mana dapat impian.
131. Jikalau hendak mendaki bukit, jangan menoleh ketepi jurang, kalau harta tinggal sedikit masanya akan diumpat orang.
132. Hendak tahu harga makanan, masuk pasaran orang lapar.
133. Hendak tahu harganya sehat, masuk pasaran orang sakit.
134. Mata mendapat tawaran dalam pasar orang buta, kaki mendapat tawaran dalam pasar orang lumpuh.
135. Tabiatnya manusia suka mencela barang yang tidak diketahuinya, atau mengumpat sifat yang tiada padanya.
136. Kerbau mencela kuda karena laju berlari, kuda mencela kerbau karena lambat berjalan.
137. Karena panjangnya kaki bangau dicela itik, karena pendeknya kaki itik dicela bangau
138. Bangau berbangga-banggakan kakinya karena panjangnya, itik bermegah-megahkan kakinya karena pendeknya.
139. Emas atau perak sejenis batu, tetapi batu yang dapat menghancurkan batu.
140. Semenjak bulan menengahi langit, bintang tiada dapat memperlihatkan cahayanya.
141. Pada waktu siang hari, obor tiada dapat dipergunakan.
142. Dibawah naungannya pohon rindang, tiada perlu kita berpayung.
143. Matahari melepaskan sinarnya, bulan suram cahayanya.
144. Mawar menebarkan baunya, melati tidak keciuman.
145. Harimau memperdengarkan suaranya, kerbau menguak tidak kedengaran.
146. Ilmu tidak disertai amal, sebagai obor tengah hari, amal tidak disertai ilmu, sebagai berjalan diatas duri.
147. Adapun orang yang tak mengenal baik dan jahat, tuliskan namanya dalam daftar binatang.
148. Oleh kebebalan, manusia masuk dalam jurang kesesatan, oleh kecerdikan manusia terlepas dari serangan malapetaka.
149. Kalau pemandangan orang yang bijiksana, lebih berharga dari emas intannya orang, papah lagi dungu.
150. Anggapan seorang dewasa, lebih baik dari pemandangan seorang yang masih belia.
151. Dengan insaf dan budi bahasa, dapat memikat hati kawan lawan.
152. Modal manusia hidup ilmunya, amal dan perusahaannya labanya.
153. Ilmu yang tidak diperamalkan, sebagai modal yang tiada diperlabakan.
154. Beramal tidak dengan ilmu, seperti berniaga tiada dengan modal.
155. Harga tiap-tiap seorang, ilmunya, makin banyak ilmu seorang makin mahal harganya.
156. Ilmu dan kecerdikan, kawan sebaik-sebaik kawan, dungu dan kebebalan lawan sejahat-jahat lawan.
157. Ilmu bagi manusia, sebagai sinar bagi matahari. Mulia matahari dengan sinarya, mulia manusia dengan ilumnya.
158. Ilmu pada manusia, sebagai permata pada kalung emas, mahal manusia karena ilmunya, mahal kalung karena permatanya.
159. Ilmu tiada dengan pengaruh, seperti dongeng dalam impian; hidup tiada dengan harta, senantiasa dalam cacian.
160. Ilmu dalam hati seorang, sebagai air dalam sumur, makin banyak disibur orang, makin bertambah jernihnya.
161. Manusia dengan ilmunya, sebagai matahari dengan cahayanya, dapat diambil orang manfaatnya, tetapi tiada dapat diceraikan dari padanya.
162. Anggota seorang yang tiada berilmu kuburnya sebelum ia mati.
163. Kalau emas dan perak menjadi bahtera kehidupan, ilmu menjadi nakhodanya.
164. Berobor orang yang berilmu pada waktu malam, berobor orang yang dungu pada waktu siang.
165. Akan akal yang waras, sebagai mata pada manusia, sedang ilmunya sebagai obor dalam tangannya.
166. Emas dan perak perlu diamat-amati, ilmu dan pengetahuan mengamat-amati.
167. Mewariskan ilmu pengetahuan pada turunan, lebih baik dari mewariskan emas dan perak.
168. Orang yang tiada berilmu, dianggap mayit sekalipun berpelanjongan pada waktu siang hari.
169. Memperdengarkan nyanyian kepada orang tuli, sama artinya dengan memperlihatkan tarian pada orang buta.
170. Seorang ahli dalam ilmu bumi, tahu ia besarnya benua Cina, tetapi tiada mengenal sutera tiruan kalau belum masuk pasar Shanghai.
171. Cendrawasih ditembak karena cantiknya, nuri dipikat karena cerdiknya.
172. Kijang diburu karena dagingnya, musang ditangkap karena kulitnya.
173. Lebah dibakar karena madunya, mangga dilontar karena buahnya.
174. Pohon getah diiris karena getahnya, pohon pisang ditebang karna buahnya.
175. Pelanduk yang baik nasibnya, dapat memperdayakan harimau, harimau malang mati kelaparan diantara mangsanya.
176. Unggas yang berbahagia, dapat mengeramkan telurnya diatas ranting, harimau kemalangan tiada dapat mengapakan anjing dihadapannya.
177. Buaya yang hilang nasibnya, termenung melihat serigala meronda ditepi kali.
178. Serigala yang putus harapan, tak dapat melihat anak ayam disamping liangnya.
179. Seorang raja yang sial, kecil pada mata rakyatnya.
180. Seorang raja yang sial, dipandang salah dalam segala tindakannya.
181. Bujang yang berbahagia, berkuasa dalam rumah tuannya.
182. Seorang raja yang kurang jasa, dipengaruhi menterinya, seorang suami yang kurang tenaga dipengaruhi istrinya.
183. Orang yang bakal mati dalam peperangan, tak dapat mendengar bunyi bedil, orang yang bakal tertawan, tak dapat melihat musuh dihadapannya.
184. Soal sulit bagi orang yang bukan ahlinya, sebagai kacamata bagi orang buta.
185. Karena becak jadi saingan dalam negeri, kuda dapat melepaskan lelahnya.
186. Karena kuda diperbebankan, keledai enteng dalam pertuanannya.
187. Kalau saudagar bergandengan, orang kampung mati kesukaran. Kalau saudagar bertentangan, orang kampung hidup bergelimpangan.
188. Harimau sama harimau sama berjuang, pelanduk dapat menyanyikan kidung kebangsaannya.
189. Buaya adu tenag, kambing dapat menyeberang kali.
190. Anjing memusuhi musang, ayam dapat berpelancongan.
191. Kucing bimbang diserap anjing, tikus dapat kesempatan.
192. Tikut takut diserang kucing, padi di lumbung tidak terganggu.
193. Babi takutkan pemburu, keladi terpelihara.
194. Takutkan ombak di tepi laut, nelayan tak dapat melepaskan pukatnya.
195. Danau kecil tidak berombak, danau besar acapkali bergelombang.
196. Selagi hajatmu dalam tangan lain orang, anggapkan dirimu sebagai tawanannya.
197. Oleh terdesak hajat, manusia lupa harga dirinya.
198. Oleh sangat kedinginan, terpaksa duduk di samping api.
199. Sebab perut berkeronjongan, lupa racun dalam keladi.
200. Takutkan ampuhan dari laut, mati lemas dalam kolam.
201. Karena takut kehujanan, beli payung lewat harganya.
202. Oleh suara sinag meraung, lembu terpaksa masuk ke jurang.
203. Oleh suara kucing mengeong, tikus terjepit oleh perangkap.
204. Tupai dipagut ular, katak mati ketakutan. Ayam disambar elang, itik bimbang bukan buatan.
205. Seorang pendekar mahir, dapat menantang musuh dengan senjata seterunya.
206. Kemana harimau pergi, disana mendapat mangsanya.
207. Harimau mengelilingi rimba, tiada membawa bekalnya.
208. Kalau tiada tinggalkan Jawa, tiada akan dapat memburu gajah di Sumatera.
209. Kalau tiada berjuang tiada akan terdapat keinsafan.
210. Kalau tiada melambung tinggi, darimana mendapat pengkhabaran langit.
211. Dalam soal tolong menolong, si buta menjadi kaki, si lumpuh menjadi mata.
212. Dalam soal tolong menolong, nakhoda dapat membawa kapal, kapal dapat membawa nakhoda.
213. Seorang kawan yang tidak dapat menolong kawannya dalam masa kemalangan, adalah seperti kacamata pada orang buta.
214. Jika seorang sahabat yang tak dapat menolong sahabatnya dalam masa kesusahan, adalah seperti gigi tiruan pada mulut orang tua, indah dilihat, tetapi tidak dapat dipakai makan.
215. Jika seorang bertangan satu, tentu tak bisa bertepuk tangan. Kalau tak bisa kita bersatu, kenang-kenangan tinggal kenangan.
216. Tolongan yang masih dijanji-janjikan, belum dapat disebut tolongan, bantuan yang masih dinanti-nantikan, belum dapat disebut bantuan.
217. Sedikit yang sudah diberikan, lebih banyak daripada banyak yang masih dijanjikan.
218. Tangan yang mengajurkan pemberian, lebih berharga daripada lidah yang menjanjikan tolongan.
219. Sedikit pada ketika hajat, lebih banyak daripada banyak ketika kelimpahan.
220. Keladi dimakan ketika lapar, lebih lezat daripada roti ketika kenyang.
221. Pada musim kemarau, air keruh dapat menghilangkan dahaga.
222. Seruhan orang yang durhaka, hancur luluh di bawah awan. Tangisan orang yang teraniaya, menggemparkan isi langit.
223. Makhluk dapat melupakan Tuhannya, tetapi Tuhan tiada dapat melupakan MakhlukNya.
224. Sekalipun masuk kerajaan sorga, kematian tetap tiada disukai orang.
225. Jika berlayar menepi pantai, pedoman tiada dapat digunakan.
226. Besi dapat dipotong dengan besi, warna dapat dihapuskan dengan warna.
227. Pohon yang berbuah lezat, seringkali dilontar oleh anak kampung.
228. Pohon yang tiada menghasilkan buahnya, kalau-kalau dapat menghasilkan daunnya.
229. Pohon yang tiada memberikan hasilnya, baik ditebang guna memasak sayur.
230. Hendak terbang tiada bersayap, hendak berjalan tiada berkaki.
231. Dibawah pohon besar lagi rindang, pohon kecil tidak akan subur.
232. Ayam diberi jagung karena telurnya, biri-biri diberi rumpt karena dagingnya.
233. Kalau mualim dapat membawa kapal, kapal pun dapat membawa mualim.
234. Kalau telur daripada ayam diakui, ayam daripada telur tak dapat disangkal.
235. Hati dapat memikirkan tujuan, lidah dapat menyatakan pendapat.
236. Hati dapat memberikan kepastian, lidah menjadi juru bahasanya.
237. Kaki dapat menempuh jalan, mata yang menunjukannya.
238. Saudagar dapat memperlabakan modal, modal dapat melabakan saudagar.
239. Dengan kaki dapat berjejak, dengan tangan dapat berpegang.
240. Dengan kaki dapat mengejar maling, dengan tangan dapat menangkapnya.
241. Sepatu yang tiada sebesar kaki, tiada dapat dipakai berjalan jauh.
242. Bintang kehormatan yang tiada seimbang jasa, tiada dapat dibangga-banggakan.
243. Bukannya kapal membawa nahkoda, tetapi nahkoda membawa kapal.
244. Perahu yang masih didaratan, tidak dapat dilayarkan, rencong masih dalam sarungnya belum dapat digunakan.
245. Dalam sungai kecil acapkali terdapat ikan yang tiada terdapat dalam lautan besar.
246. Bila ajal berpantang mati, tabib mahir tidak berdaya.
247. Peluru dapat tenggelamkan kapal, bukan sebesar kapal, tikus dapat menolong harimau, bukan sebesar harimau.
248. Sauh dapat menahan perahu, bukan sebesar perahu, kayu dapat menjalankan sampan bukan sebesar sampan
249. Pahala lembu pedati yang kehabisan tenaganya, dituntun kerumah bantaian.
250. Kerbau mati disawah tidak tahu rasanya padi.
251. Jarum dapat menjahitkan pakaian, jarum senantiasa tidak berbaju.
252. Sumbu pelita musnah dimakan api, terangnya guna orang.
253. Yang cari bukannya yang makan, yang makan bukannya yang cari.
254. Peluru yang merebahkan kijang, pemburu yang memakan dagingnya.
255. Anjing mati dalam perburuan, daging gemuk untuk pemburu.
256. Sungai mengalir kelaut, tiada akan berbalik kehulu, laut pasang kesungai, sekali kelaut pula.
257. Sungai mengalir kelaut kewajiban, laut pasang kesungai pengasihan.
258. Batu gunung turun kelembah sendirinya, batu lembah naik kegunung perlu tenaga.
259. Batu gunung turun kelembah, mendapat kedudukan, batu lembah naik kegunung takut tergiling turun.
260. Buaya kedaratan mendapat mangsa, serigala kelautan mati lemas.
261. Obor dalam tangannya orang buta, terangnya guna lain orang.
262. Kalau tidak mempunyai uang, perlu apa masuk pasar, kalau tidak mempunyai kawan, ingatkan diri akan kesasar.
263. Air laut pasang kekali sekali-kali, air turun kelaut senantiasa.
264. Betapapun sungai-sungai mengalirkan airnya kelaut, laut tiada tawar dan tiada bertambah dalamnya.
265. Kalau musuh dari udara, baik berlindung dibawah tanah, kalau musuh diseberang laut, pasang ranjau dipelabuhan.
266. Kalau jadi milik si gundul, apa gunanya sisir seribu, kepada seorng perempuan mandul siapa kelak berseru ibu.
267. Bukannya sumur mendekati sibur, tetapi sibur mendekati sumur.
268. Kalau hendak anggap saudara, cinta kasih harus buktikan, jangan digenggam seperti bara, rasa hangat dilepaskan.
269. Mawar yang harum bau biarpun layu dicium lagi. Orang yang baik budi, meskipun mati diingat lagi.
270. Pada kelingking pandai emas, tiada terdapat cincin permata.
271. Sakit pada jari telunjuk, segenap tangan tidak berdaya, kalau hendak jadi petunjuk, jangan fikirkan susah dan payah.
272. Orang yang sakit mata benci akan matahari, orang sakit kaki tak suka melihat orang yang berlari.
273. Karena sangat bercinta bulan di langit, mengintip bayangnya dalam kolam.
274. Karena sangat bercintakan bulan, impikan bulan siang hari.
275. Karena sangat bercintakan bulan, agak lupa akan matahari.
276. Jikalau kaki hilang tenaga, segenap tubuh tiada berdaya, kalau suami sering berlaga, istri tak cantik, kalah bergaya.
277. Harta orang yang dermawan adalah sebagai mata air di atas puncak gunung yang tinggi, kemanapun dapat dialirkannya.
278. Harta orang yang kikir, adalah sebagai mata air dalam jurang, tiada mudah diambil manfaatnya.
279. Orang yang kikir menjaga akan hartanya, orang yang dermawan dijaga oleh hartanya.
280. Harta dalam tangan orang kikir, seperti emas dalam gunung batu, dipegang tak boleh dilihat tak bisa.
281. Harta dalam tangan orang kikir, seperti mutiara dalam perut anjing, anjing belum dibantai, mutiara belum dapat dipergunakan.
282. Harta dalam tangan orang kikir, adalah sebagai air susu dalam susunya seorang ibu, mati ia kehausan, tapi ia tak dapat meminum air susunya sendiri.
283. Harta orang yang mulia budi, menambahkan kemuliaannya, harta orang yang hina budi menambahkan kehinaannya.
284. Orang yang dermawan dekat kepada manusia, dekat kepada Tuhannya, orang yang kikir jauh dari pada manusia, jauh pula dari pada Tuhannya.
285. Salah dalam memberi ampun, bukan salah dalam memberi hukuman.
286. Salah memberi bukan salah mengambil, salah melepaskan pukulan bukan salah memberi pukulan.
287. Kalau hendak bercincin, baik dengan cincin seharga jari, mahkota yang bukan pada kepala raja, janggal pada mata oang.
288. Selagi bekerja guna hidup, jangan fikir akan mati, selagi bekerja guna mati, jangan fikir guna hidup.
289. Kalau hendak mati, jangan fikir hidup, kalau hendak hidup jangan fikir mati.
290. Oleh besar kegirangan dalam pertemuan, besar kesedihan dalam perceraian.
291. Besar kegirangan masa kelahiran, besar kedukaan masa kematian.
292. Yang pergi tiada akan balik, yang datang belum pasti.
293. Sekalipun hidup piatu, anak kucing tahu menyerang tikus.
294. Berapa besarnya pemberian seorang hartawan, terasa seakan setitik air diambil dari lautan, berapa kecilnya pemberian seorang dalam kemiskinan, terasa seakan sekeping daging diambil dari suku anggotanya.
295. Mati dahaga seorang ibu, tiada akan meminum air susunya sendiri.
296. Harimau mati kehausan, tiada akan minum air bekas diminum anjing.
297. Kalau hendak berani mati, takut apa akan kolera, kalau tidak kena cemeti, ragam tidak ambil bendera.
298. Kecemasan hati seorang, dapat dilihat dalam peribahasanya, atau tampak pada roman mukanya.
299. Dengan ukiran pada kulit buah manggis, dapat dihitung isinya, dengan air dalam buah nyiur dapat diketahui tua mudanya.
300. Dengan melihat bunga dalam taman, dapat diketahui perubahan di udara.
301. Dengan keruh air di muara, dapat diketahui hujan lebat di hulu.
302. Dengan melihat kedudukan bulan di langit, dapat diketahui pasang surutnya air di lautan.
303. Dengan tampaknya burung beterbangan di laut, nakhoda dapat memberi kepastian jauh dekatnya daratan.
304. Dengan melihat awan di udara, dapat diterka angin apa yang akan berhemb

2 komentar:

  1. No. 110, kecuali bagi yang hipertensi.
    No. 201, namanya hukum pasar.
    No. 292, mengharap guntur di langit air di tempayan dituangkan.
    Halo, brur Atho, rupanya sudah capek ya, no. 304, saya tambahkan ya, ... bus.

    BalasHapus
  2. Terima kasih fren atas komentarnya. Salam sukses and God Bless.

    BalasHapus