HUBUNGAN MANUSIA DENGAN WAKTU
Hanya sedikit orang yang menyadari bahwa hubungan kita dengan waktu, la’sana meletakkan manusia diatas ban berjalan. Setiap orang yang berada diatasnya bebas melakukan apa saja yang dikehendaki, kecuali satu, yaitu MEROBAH MEKANISME KERJA ban berjalan itu, baik mempercepat, memperlambat, menghentikan, apalagi memutarnya mundur. Akan tetapi pertanyaannya bukanlah pada soal mekanisme kerja itu, melainkan KEMANA ban berjalan ini akan membawa seluruh “penumpang”nya’? Kenyataan telah membuktikan bahwa para penumpang selalu dihantar menuju ke “tempat pembuangan akhir” (TPA) yang biasa dikenal dengan istilah KEMATIAN. Tentang berapa jauh jarak yang harus ditempuh hingga ke tempat tujuan, tidak seorangpun yang mampu memastikannya, karena “lokasi” TPA itu sendiri sangat “gelap” dan tidak bisa dilihat. Yang bisa diketahui hanyalah bahwa soal itu bergantung pada 2 hal, yakni : Dari mana ia mulai “menumpang”, dan di posisi mana sekarang dia berdiri. Yang pasti, semakin lama ia berada diatasnya, semakin dekat ia ke TPA. Pertanyaan penting lainnya adalah : ADA APA DIBALIK TPA ITU, SEDANGKAN SEMUA MAKHLUK HIDUP HARUS MENUJU KESANA? Untuk menjawab pertanyaan ini, manusia hingga sekarang tidak mampu membuka ‘tabir’ agar ia bisa melihat apa yang sesungguhnya ada di TPA itu. Dengan menggunakan teknologi secanggih apapun yang dimilikinya, manusia tidak mampu menguak rahasia itu. Melalui ilmu2 metafisika sekalipun, ternyata juga tidak ditemukan jawaban yang pasti, semuanya “mengambang”. Lalu, dari mana bisa ditemukan jawabannya, ataukah tinggallah ia sebagai suatu misteri yang abadi?
Suatu hal yang harus diakui manusia yaitu bahwa ia mempunyai keterbatasan dalam segala hal, termasuk juga dalam hal “berpikir” dan “berusaha”. Artinya, diluar kekuasaan manusia ada kekuasaan lain yang jauh “melampaui” kekuasaan manusia. Kekuasaan atau kekuatan jenis ini oleh para ilmuwan disebut sebagai TRANSENDEN. Menyadari akan kekurangannya, manusia perlu menelusuri bagaimana “memahami” sifat transenden itu DAN SIAPA PEMILIKNYA. Sejauh ini sifat transenden itu hanya bisa dipahami melalui AGAMA. Mengapa demikian? Karena di dalam agama manusia DIAJARKAN melalui wahyu bahwa segala yang ada di alam semesta ini ada yang MENCIPTAKANNYA, sekalipun mungkin tanpa wahyu manusia juga bisa menyadari bahwa tidak mungkin sesuatu yang mekanisme kerjanya sangat teratur di alam semesta ini, lalu tidak ada yang merancangnya. Pasti ada yang medesainnya, dan DIA itu adalah SANG MAHA PENCIPTA, yang dikenal sebagai TUHAN. Banyak informasi yang diterima manusia melalui jalur ini yang sebelumnya tidak pernah diketahui karena sengaja diberitahukan oleh Sang Pencipta, walaupun hanya sebagian kecil saja. Nah, salah satu informasi penting yang diperoleh dari agama yaitu bahwa dibalik TPA itu ADA KEHIDUPAN, yang merupakan kelanjutan dari kehidupan sebelumnya (kehidupan duniawi), yang dikenal sebagai KEHIDUPAN UKHRAWI (HEREAFTER).
Pertanyaan selanjutnya adalah : “Bagaimana suasana “kehidupan” manusia di tempat itu”? Untuk menjawabnya, tentu saja manusia harus merujuk pada prinsip2 dan doktrin2 yang diajarkan oleh agama, karena disitu sebagian sudah menjelaskan bagaimana suasana di tempat tersebut. Agama mengajarkan bahwa manusia sesudah mati, akan mengalami suasana kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Dua hal saja yang mungkin ditemuinya, yakni ia akan SENANG atau kemungkinan lain ia akan TERSIKSA. Lantas, bagaimana memastikannya? Dalam soal ini, agama juga sudah memberikan “resepnya’. Tinggal bagaimana manusia meyakini itu sebagai suatu kebenaran dan bagaimana ia mematuhinya. Demikianlah, wallahu a’lam bissawab. God knows the truth.
Jumat, 14 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar